Perjalanan Pulang
Friday, December 4, 2009 by Adhini Amaliafitri

Lelaki itu kini ada di hadapanku. Dekat. Sangat dekat jaraknya. Dan seperti biasanya, senyuman manis dan tatapan matanya masih tetap sama. Tidak berubah sama sekali ketika menatapku.
"Hai Nad!"
"Adrian?"
"Kenapa?"
"Oh, gak apa2."
"Muka kamu tuhh!"
"Kenapa mukaku?"
"Hahahahaa.. "
"Kenapa sih? Emang ada apaan di mukaku?"
"Kaya lagi liat siapa gituu.. Mingkem neng!"
"Hoo??"
Makin terlihat bodoh sekali aku di hadapannya. Aku tau aku seperti sedang melihat sosok yang membuat mataku enggan berkedip. Adrian masih tetap sama. Hanya saja, penampilannya jelas berbeda dibandingkan terakhir kali kami bertemu. Ia terlihat lebih dewasa dengan kemeja hitamnya. Badannya sepertinya lebih berisi dan tidak sekurus dulu. Garis wajah khas pria Jawa, masih melekat erat. Rahang, serta hidungnya. Tak dapat dipungkiri, Adrian makin menawan. Semakin matang!
"Yuk," kata Adrian singkat.
"Kemana?"
"Loh? Kamu gimana sih Nad. Pulanglah. Aku kan jemput kamu, sekalian anter kamu pulang. Mau maen juga kerumah. Udah lama gak main kesana."
Untuk apa sih Adrian jemput aku malam ini? Untuk apa juga dia mau maen-maen kerumah lagi? Aku terus berkutat dengan pertanyaan yang tumpah tindih. Kenapa dia muncul lagi?
"Oh.. Iya deng! hehehehe," ujarku semakin bodoh.
Tidak lama kemudian. Kami sudah berada di dalam mobil. Dingin. Serius, dan aku tidak bohong. Rupa-rupanya Adrian membaca bahasa tubuhku.
"Nadia, Nadia. Kamu masih kaya dulu yahh.. Gak kuat dingin," tuturnya sambil melirik ke arahku.
Here again. Aku gak begitu suka dia mengatakan kata-kata dulu. Dulu, it means something was happened. Dan aku ingat. Kami berdua memang pernah punya kisah.
"Sok tau kamu. Kata siapa? Udah mendingan sekarang. Lebih kuat dingin berkali-kali lipat dari pada dulu. Weeeeee!" kataku sambil memeletkan lidah.
"Huahahahahahahahaaaa . . . "
"Hahaaa . . .Tertawalah sepuas mungkin. Mumpung ketawa belum dilarang. Masih bebas."
"Kamu lucu Nad,"
"Lucu? Jelas. Aku memang lucu."
"Huahahahaa... "
"Udah deh. Gak usah kebanyakan ketawa."
"Ok ok.. Eniwe gimana kerjaan? Lancar?"
"So far, iya. Menyenangkan! :) "
"Baguslah.. Senang kalau liat kamu senang."
"Really?"
"Yup!"
Obrolan kami berlanjut. Tentang proyek yang sedang dia garap dan konon termasuk proyek besar. Karena perusaahaan tersebut termasuk salah satu perusahaan otomotif ternama di dunia. Lalu tentang kegiatan kami masing-masing, tentu saja.
"Hmm.. Nad, are you happy now?" tanyanya tiba-tiba.
Adrian memang aneh. Lelaki misterius yang sungguh membuatku penasaran.
"Sorry. What do you mean with it?"
"Kamu bahagia. Baik-baik saja. Tanpa ada aku di samping kamu?" tanya Adrian terbata-bata.
HUAAAAAAAAAAAAAATTT! Kesabaranku sudah mau meledak rasanya. Gila. Dasar lelaki aneh nan gila. Pertanyaan macam apa itu?
"Kamu mau jawaban apa?" tantangku.
"Hmm.. You are happier now. Without me.. "
"Ya, aku bahagia."
"Really?"
"Kamu mau aku jawab apa lagi Adrian?"
Malam ini aku merasa sangat lelah. Perjalanan pulang yang sedari tadi terasa menyenangkan tiba-tiba membuat hati ini terasa begitu capek. Entah mengapa. Energi seperti diserap banyak ketika Adrian melontarkan pertanyaan barusan.
Dan, tiba-tiba lagu dari Beyonce yang mengalun dari radio tempatku bekerja. Seolah mewakili perasaanku malam ini. Yah..
Listen, I am alone at a crossroads
I'm not at home in my own home
And I've tried and tried to say what's on mind
You should have known
Oh, now I'm done believing you
You don't know what I'm feeling
I'm more than what you made of me
I followed the voice you gave to me
But now I've gotta find my own
You should have listened, there is someone here inside
Someone I thought had died so long ago.
Perjalanan pun berlanjut. Tanpa adanya suara. Sedikitpun. Adrian diam. Dan aku? Aku sungguh tak bisa berbicara lagi. Energiku habis!
Cerita sebelumnya 1, 2, 3
*pic was taken from here
Baca Selengkapnya...


