Perjalanan Pulang



Lelaki itu kini ada di hadapanku. Dekat. Sangat dekat jaraknya. Dan seperti biasanya, senyuman manis dan tatapan matanya masih tetap sama. Tidak berubah sama sekali ketika menatapku.

"Hai Nad!"
"Adrian?"
"Kenapa?"
"Oh, gak apa2."
"Muka kamu tuhh!"
"Kenapa mukaku?"
"Hahahahaa.. "
"Kenapa sih? Emang ada apaan di mukaku?"
"Kaya lagi liat siapa gituu.. Mingkem neng!"
"Hoo??"

Makin terlihat bodoh sekali aku di hadapannya. Aku tau aku seperti sedang melihat sosok yang membuat mataku enggan berkedip. Adrian masih tetap sama. Hanya saja, penampilannya jelas berbeda dibandingkan terakhir kali kami bertemu. Ia terlihat lebih dewasa dengan kemeja hitamnya. Badannya sepertinya lebih berisi dan tidak sekurus dulu. Garis wajah khas pria Jawa, masih melekat erat. Rahang, serta hidungnya. Tak dapat dipungkiri, Adrian makin menawan. Semakin matang!

"Yuk," kata Adrian singkat.
"Kemana?"
"Loh? Kamu gimana sih Nad. Pulanglah. Aku kan jemput kamu, sekalian anter kamu pulang. Mau maen juga kerumah. Udah lama gak main kesana."

Untuk apa sih Adrian jemput aku malam ini? Untuk apa juga dia mau maen-maen kerumah lagi? Aku terus berkutat dengan pertanyaan yang tumpah tindih. Kenapa dia muncul lagi?

"Oh.. Iya deng! hehehehe," ujarku semakin bodoh.

Tidak lama kemudian. Kami sudah berada di dalam mobil. Dingin. Serius, dan aku tidak bohong. Rupa-rupanya Adrian membaca bahasa tubuhku.

"Nadia, Nadia. Kamu masih kaya dulu yahh.. Gak kuat dingin," tuturnya sambil melirik ke arahku.

Here again. Aku gak begitu suka dia mengatakan kata-kata dulu. Dulu, it means something was happened. Dan aku ingat. Kami berdua memang pernah punya kisah.

"Sok tau kamu. Kata siapa? Udah mendingan sekarang. Lebih kuat dingin berkali-kali lipat dari pada dulu. Weeeeee!" kataku sambil memeletkan lidah.
"Huahahahahahahahaaaa . . . "
"Hahaaa . . .Tertawalah sepuas mungkin. Mumpung ketawa belum dilarang. Masih bebas."
"Kamu lucu Nad,"
"Lucu? Jelas. Aku memang lucu."
"Huahahahaa... "
"Udah deh. Gak usah kebanyakan ketawa."
"Ok ok.. Eniwe
gimana kerjaan? Lancar?"
"So far, iya. Menyenangkan! :) "
"Baguslah.. Senang kalau liat kamu senang."
"Really?"
"Yup!"

Obrolan kami berlanjut. Tentang proyek yang sedang dia garap dan konon termasuk proyek besar. Karena perusaahaan tersebut termasuk salah satu perusahaan otomotif ternama di dunia. Lalu tentang kegiatan kami masing-masing, tentu saja.

"Hmm.. Nad, are you happy now?" tanyanya tiba-tiba.

Adrian memang aneh. Lelaki misterius yang sungguh membuatku penasaran.

"Sorry. What do you mean with it?"

"Kamu bahagia. Baik-baik saja. Tanpa ada aku di samping kamu?" tanya Adrian terbata-bata.

HUAAAAAAAAAAAAAATTT! Kesabaranku sudah mau meledak rasanya. Gila. Dasar lelaki aneh nan gila. Pertanyaan macam apa itu?

"Kamu mau jawaban apa?" tantangku.
"Hmm.. You are happier now. Without me.. "
"Ya, aku bahagia."
"Really?"
"Kamu mau aku jawab apa lagi Adrian?"

Malam ini aku merasa sangat lelah. Perjalanan pulang yang sedari tadi terasa menyenangkan tiba-tiba membuat hati ini terasa begitu capek. Entah mengapa. Energi seperti diserap banyak ketika Adrian melontarkan pertanyaan barusan.

Dan, tiba-tiba lagu dari Beyonce yang mengalun dari radio tempatku bekerja. Seolah mewakili perasaanku malam ini. Yah..

Listen, I am alone at a crossroads
I'm not at home in my own home
And I've tried and tried to say what's on mind
You should have known

Oh, now I'm done believing you
You don't know what I'm feeling
I'm more than what you made of me
I followed the voice you gave to me
But now I've gotta find my own

You should have listened, there is someone here inside
Someone I thought had died so long ago.

Perjalanan pun berlanjut. Tanpa adanya suara. Sedikitpun. Adrian diam. Dan aku? Aku sungguh tak bisa berbicara lagi. Energiku habis!


Cerita sebelumnya 1, 2, 3


*pic was taken from
here



Baca Selengkapnya...

Still Dancing


Dearest you..

I know, it was since five months ago when i posted my last story in here. I really know, long time there's no one new post on this blog. Where am i? I still stand on earth. S
truggle with life and all that consequences inside it.

I try to be my self face many chances. You know, being journalist not easy as I thought. Need the edge off the sacrifice, intelligence and extraordinary patience.
Sometimes i look enjoying my dance, with around, jump, and sometimes fell :) And don't forget.. I have a limit. I'm only human who can get sick and tired with all the task.

So, wish me luck :)





Baca Selengkapnya...

Bisakah terwujud? :)

Semakin banyak saja buku baru dari para penulis baru yang memenuhi rak di toko buku terkemuka. Beragam jenis tulisan disuguhkan. Biografi, novel bergaya fiksi maupun non fiksi, novel islami fiksi maupun non fiksi, buku tentang psikologi, buku yang berkaitan dengan agama, bisnis, kuliner, kesehatan, travelling, dll. Dibalut dengan warna warni cover yang mencuri perhatian sepasang bola mata. Buku-buku tersebut menawarkan sesuatu untuk dibagi. Entah berupa ilmu, pengetahuan, pengalaman, kisah, pencerahan, kesadaran, hiburan, ataupun bisa menjadi media intropeksi diri.

Buku apapun bisa menjadi buku favorit saya. Entah berlatar belakang apa yang dikupasnya. Asalkan saya bisa mendapatakan sesuatu ketika setelah membacanya. Maka dengan sendirinya, buku itu masuk hitungan buku favorit saya. Buku itu bisa sangat bernilai apabila ia mengandung sesuatu yang bisa dibagi untuk memberikan pembelajaran. Istilahnya, memberikan inspirasi. Memberikan kesadaran bagi pembacanya untuk berperilaku positif, berpandangan positif, dan menjalani kehidupan dengan rasa syukur. Bisa saja cerita fiksi bergaya roman picisan terkesan cengeng dan tidak bermutu memberikan pelajaran. Atau bisa saja biografi dari seorang tokoh yang kurang dikenal masyarakat memiliki kisah menawan yang dapat diambil pengalamannya. Selama apa yang dikandung dalam sebuah buku memiliki nilai untuk mengajak orang bersemangat memandang kehidupan, memberikan energi positif serta tambahan pengetahuan akan sesuatu hal. Saya bisa menghabiskan halaman demi halaman dengan rasa penasaran.

Buku itu adalah jendela dunia. Buku layaknya sahabat, bisa menemani dikala sedih dan bahagia. Buku ialah harta karun tak terhingga nilainya. Dan buku bisa menjadi cermin untuk melihat diri dengan sebenar-benarnya. Seketika, saya teringat akan sebuah impian. Impian untuk menerbitkan buku saya suatu hari nanti. Bisakah terwujud? :)


*pic taken from here


Baca Selengkapnya...