Friday, April 13, 2012

Kapan Menikah?



Menikah bukan sebuah tuntutan, kan? 
Menikah bukan juga untuk sebuah pengakuan.
Menikah merupakan sebuah komitmen diantara dua insan yang saling mencinta dan membutuhkan satu sama lain. Untuk bersama-sama melanjutkan episode kehidupan.

Menikah pasti butuh cinta, kan?
Tidak mungkin tanpa ada cinta di dalamnya.
Bagaimana bisa seorang perempuan bisa berbakti pada pria yang ia sebut suami. Jika hatinya tak mencinta?

Menikah itu keseimbangan, kan?
Kondisi dimana perempuan dan pria sama-sama saling menjaga. Segenap jiwa raga.
Seimbang. Bukan malah di satu sisi berlebih, di sisi lain kurang.

Menikah adalah jalan hidup baru untuk ditapaki bersama, kan?
Bergandengan tangan bersama.
Menatap masa depan penuh asa.
Dibumbui adegan-adegan penuh drama.
Dijalani dengan tawa, maupun air mata.
Dikejutkan dengan ragam suka dan duka.

Bukankah, disitu letak romansa?
Saat dua hati tetap saling mendamba.
Meski diterjang ujian dari arah berbeda.

Menikah.
Kapan menikah?
Bisakah tidak terlalu sering bertanya pertanyaan itu?
Setiap manusia normal.
Setiap pribadi matang.
Pasti punya hasrat menikah.
Tidak ada yang ingin hidup sendiri sampai akhir hayat.

Pun saya menikah suatu hari nanti.
Itu merupakan pilihan hati. Kemantapan nurani. Restu Illahi.
Bukan semata sebuah pilihan kebahagiaan. Status pengakuan. Berwujud kebutuhan.

Tolong.
Berhenti bertanya.
Kapan menikah?
Saya benci kata kapan.
Lebih baik jika Anda merubah kata tanya menjadi sebentuk doa.
Bukankah doa bagi saudara sesama muslim pasti diperkenankan olehNya?

Tolong.
Bisakah ganti pertanyaan?
Saya sedang berada di titik lelah.
Tak mampu mengumbar senyuman.
Ataupun menganggap pertanyaan "kapan" sebagai hal remeh temeh.
Saya terlalu sensitif mendegar lontaran tanda tanya dari Anda, dia, si ini, si itu, siapapun.

Dengar.
Saya akan menikah.
Entah dengan siapa.
Tapi saya yakin pasti dengan pria yang saya cinta. Dan dia begitu mencintai saya.
Sama-sama mencinta.

Tunggu saja.
Undangan saya akan hadir di meja.
Begitu Anda membuka.
Saya harap Anda tak lagi banyak bertanya.

Sampai jumpa!

Monday, April 2, 2012

Masih Meragu



Hasratku, kemana perginya kamu?
Bahkan aku tidak benar-benar tahu apa yang aku mau.
Tubuhku hanya berjalan mengikuti laju dan waktu.
Keduanya berderu-deru.
Dipenuhi aliran memburu.
Tanpa pedulikan masa lalu.
Dan aku masih meragu.
Apa ini yang aku mau?